Tuhan, Jangan Dititipin Pak Pos

Suatu ketika, ada seorang anak 8 tahun yang termenung menunggui ayahnya yang sedang sakit. Baru saja dokter mengunjungi dan memberikan secarik kertas pada ibunya. Ia tak juga mengerti kenapa ibunya memangdang kertas itu dengan sedih. Setelah diberi penjelasan oleh ibunya, yang ia pahami hanyalah, “Ayahnya akan sembuh jika ibunya bisa menyediakan uang seratus ribu.”

Berulang kali ia berdoa kepada Tuhan untuk memberikan uang seratus ribu kepada ibunya. Tapi belum berhasil juga. Anak itu pun berinisiatif menyurati Tuhan. Dengan tekun ia mencoba menulis sebagus mungkin agar Tuhan bisa membaca tulisannya. Setelah selesai, ia susuk di depan rumah menunggu tukang pos lewat.

Yang ditunggu-tunggu datang juga. Anak itu memanggil-manggil dengan bersemangat. Dengan canggung, ia menyerahkan surat kepada tukang pos, “Pak, bisakah anda membantu saya mengirimkan surat ini?”

“Tentu saja, saya tukang pos, memang pekerjaan saya mengirimlan surat yang ditulis orang.”

Setelah melihat amplop surat, tukang pos bertanya, “Tapi Nak, surat ini belum ada perangko dan alamatnya.”

“Memang Tuan, saya masih kecil dan belum bisa membeli perangko. Ibu saya juga tak punya uang untuk membeli perangko. Tapi saya bisa menuliskan kemana tuan harus mengirimkan surat ini.”

Lalu anak itu menuliskan sesuatu di atas amplop dan memberikan kembali kepada tukang pos. Tukang Pos hendak protes, bagaimana bisa mengirim surat tanpa perangko? Tapi ia mengurungkannya setelah melihat tulisan di atas amplop, “UNTUK: TUHAN SI SURGA”. Ia penasaran, untuk apa seorang anak kecil mengirim surat pada Tuhan? Ia pun tersenyum pada anak itu dan berkata,

“Baiklah Nak, soal perangko aku bisa membantumu. Ada banyak perangko di kantor pos.”

“Terima kasih Tuan.”

Sampai di kantor, tukang pos tadi makan siang bersama teman-temannya dan menceritakan kisah unik yang baru saja ia alami. Semua temannya penasaran dan ingin membuka surat dari anak kecil itu.

 

Untuk: Tuhan di Surga

 

Tuhan, sudah seminggu ayahku sakit dan tidak bisa bekerja. Ibuku juga jadi jarang di rumah karena menggantikan ayah mencari uang. Kata dokter, ayahku bisa sembuh jika dibelikan obat yang harganya 100.000. Aku termasuk pandai berhitung di sekolah, tapi aku tidak tahu apakah uang 100.000 itu banyak atau sedikit. Yang aku tahu, ibuku kesulitan mendapatkan uang sebanyak itu.

 

Tuhan, aku percaya Engkau Maha Pengasih. Seperti yang sering diceritakan ayah padaku. Engkau mengabulkan permintaan semua orang, jika memintanya dengan tulus. Aku sudah berdoa berkali-kali, tapi aku belum juga mendapatkan seratus ribu yang aku pinta. Mungkin karena aku masih keci dan suaraku kurang kelas, karena aku berdoa sambil menangis.

 

Tuhan, makanya aku mengirim surat ini. Aku mohon Tuhan, berilah ibuku 100.000 saja agar ayahku bisa sembuh. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik, baik pada semua orang.

 

Setelah membaca surat itu, semua pegawai pos di sana terharu dan terketuk hatinya. Mereka berinisiatif menymbangkan uang yang seharusnya mereka pakai untuk membeli makan siang. Semua urung makan siang dan berpuasa pada hari itu. Meskipun semua sudah menyumbang, uang yang terkumpul hanya 80.000. Uang itu dimasukkan ke dalam amplop dan ditulisi, “dari: TUHAN”.

Esoknya, tukang pos yang kemarin mampir dan mengetuk pintu rumah anak itu. “Nak, Kamu beruntung sekali. Tuhan membaca suratmu dan langsung memberikan balasan.”

Setelah berterima kasih dan memandang tukang pos pergi sampai terlihat kecil di kejauhan, anak itu membuka amplop “balasan dari tuhan”. Isinya sesuai apa yang ia minta, lembaran uang kertas yang banyak sekali. Tapi, jumlahnya hanya 80.000, padahal ia meminta 100.000, berarti ada 20.000 yang kurang.

Tak lupa anak itu pun langsung berdoa,

 “Tuhan, terima kasih karena sudah mengabulkan doaku. TAPI, LAIN KALI JANGAN DITITIPKAN PADA TUKANG POS, KARENA MEREKA AKAN MENGAMBIL SEBAGIAN UANGNYA.”

2 thoughts on “Tuhan, Jangan Dititipin Pak Pos

  1. pelajaran hidup selalu tampil hadir dalam kehidupan bila kita mau mencari dan berpikir jernih dan tak akan kehilangan firman selama mau menjalankan perintahnya, hidup akan senantiasa dalam bimbingannya dalam melukis waktu untuk selalu menyentuh kehidupan dengan aroma bunga yang tulus dan ikhlas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s