Pohon Pisang dan Buah yang Lembut

Pisang begitu populer di Uganda sehingga penduduk setempat makan sekitar 250 kg pisang setiap tahun. Kenyataannya, pisang sangat penting bagi makanan mereka sehingga matooke dapat berarti “makanan” maupun “pisang”. Pisang tidak sepopuler itu di tempat lain, tapi anak-anak di seluruh dunia menyukainya, karena rasanya, dan mudah dikupas serta dilahap. Dan, mereka salah meyakini dua hal tentang pisang. Pertama, pisang kuning bukan buah (karena tidak berbiji), dan kedua, pisang berasal dari sebuah pohon (pohon pisang).

SEJARAH PISANG

Sekarang ada 500 – 1.000 spesies pisang. Kebanyakan tidak dapat dimakan karena mempunyai biji yang keras seukuran kacang polong, dan hanya mempunyai sedikit daging buah yang rasanya tidak enak. Ahli botani beranggapan bahwa sekitar 10.000 tahun yang lalu, mungkin di Asia Tenggara, suatu mutasi acak menghasilkan pisang steril tanpa biji dan berdaging tebal, serta dapat dimakan tanpa dimasak. Garis gelap dan bintik bagian dalam pisang sekarang merupakan sisa dari biji asli.

Pisang dibawa ke India, tempat Alexander Agung melihatnya, dan tempat pisang muncul dalam lukisan gua yang berusia 2.500 tahun. Para pedagang membawanya dari India ke Afrika Timur, kemudian lewat darat ke Afrika Barat. Para nelaya Portugis kemudian membawanya ke Kepulauan Canary, dari sana pisang menuju Haiti pada abad ke-15. Pisang diimpor ke Amerika Utara segera setelah pendudukan bangsa Eropa, da segera tersedia secara umum di pasar buah Amerika pada abad ke-19.

SIKLUS KEHIDUPAN PISANG

Meskipun pisang memiliki bentuk seperti alat kelamin pria, pisang adalah buah steril dan mutan yang tidak berjenis kelaminselama 10.000 tahun. Jadi, bagaimana kita mendapatkan pisang baru?

“Pohon” pisang baru “lahir” di tempat baru ketika potongan ditanam di tanah dan berakar dengan sukses. Siklus dimulai dengan batang di bawah tanah (disebut akar rimpang), seringkali bentangannya mencapai bermeter-meterm yang bisa menumbuhka banyak “pohon” pisang dari batang tersebut. Setiap “pohon” ini berawal dari “tunas” di bawah tanah.

“Tunas” akan mendorong pucuk yang menyembul keluar dari tanah. Pucuk ini berasal dari dedaunan yag saling membungkus dengan kuat sehingga tampak seperti batang pohon yang hijau, meskipun tidak berkayu. Daun tertua di bagian luar, bersama daun terbaru mendorong ke atas lewat bagian tengahnya.

Ketika waktunya sudah tepat, akar rimpang di bawah tanah berubah dari membuat daun menjadi membuat “inflirescence” yang merupakan struktur berbunga. Infloresens memiliki struktur mirip-daun yang lebar (disebut pelepah) yang membungkus sekeliling bagian bunga, yang akhirnya berubah menjadi bagian pisang. “Pohon” pisang tingginya bisa mencapai 6 m, dengan tandan-tandan terdiri dari 50 – 150 buah atau “jari” pisang, yang terdiri masing-masing menjadi sisir-sisir yang terdiri dari 10-20 pisang.

Sekali tunas di bawah tanah tersebut tumbuh mejadi infloresens, tunas tersebut tidak dapat membuat dirinya kembali dapat menumbuhkan daun, dan akhirnya, batang lainnya. Ia sudah melakukan tugasnya. Jadi, tunas dan batang tersebut akan mati dan layu. Namun, musim panas berikutnya, tunas lainnya akan muncul pada batang bawah tanah – dan begitulah siklus berlanjut.

KEBENARANNYA

Jadi, pisang itu benar-benar buah, meskipun buah ini steril dan tidak berbiji.

Dan pisang tidak tumbuh pada sebuah pohon; tapi pada suatu tanaman. Pisang bukan pohon, karena batang pisang terbuat dari daun, bukan jaringan kayu yang sesungguhnya.

Dan, mengapa tokoh kartun di film-film dan TV selalu digambar hanya dengan empat jari? Jawaban standar yang dikatakan pembuat kartun adalah, jika anda membuat jarinya lima, tangan itu terlihat seperti sesisir pisang.

AKHIR DARI PISANG?

kita sudah pernah “kehilangan” satu spesies pisang. Ahli botani Perancis menemukan Gros Michel di Asia pada tahun 1820 – an; pisang ini kaya dan manis, yang jika Anda memilih untuk memakannya saat masih hijau, rasanya tidak pernah pahit di mulut. Pada paruh pertengahan abad ke-20, Gros Michel sebenarnya merupakan satu-satunya  pisang manis yang dijual di Eropa da AS. Namun, pisang ini sangat rentan terhadap jamur di dalam tanah, yang menyebabkan penyakit yang tak dapat disembuhkan pada pisang yang disebut penyakit Panama. Tidak ada cara untuk menyingkirkan jamur tersebut dari tanah, sehingga Gros Michel benar-benar tersapu bersih dari seluruh planet ini pada tahun 1950-an.

Untungnya, varietas pisang Cavendish dapat melawan jamur ini. Ahli botani dari Inggris menemukan Cavendish di selatan China pada abad ke-19.

Sekarang, selama itu berkaitan dengan alam, kita semua adalah makanan bagi pabrik kehidupan. Dua jamur telah berkembag dan kini menyerang perkebunan pisang varietas Cavendish, begitu juga sebagian besar pisang yang dapat dimakan.

Satu jamur, yag disebut Black Sigatka, sedang mengancam Cavendish. jamur ini pertama kali muncul di Fiji pada tahun 1963 da menyebar ke seluruh dunia. Daun ini merusak daun sehingga buah terlalu cepat masak. Jamur ini mengurangi panen sampai sepertiga panen normal, dan jumlah tahun-tahun produktif tanaman ini dari 30 sampai hanya 2 atau 3. Black Sigatoka dapat dibasmi dengan obat pembasmi jamur, fungisida, namun baha kimia ini sangat buruk bagi manusia.

jamur lain, yang disebur Race 4, menerang akar yang berada di bawah tanah, yang berarti fungisida tidak dapat berfungsi karena obat ini tidak dapat disemprotkan pada akar. Jamur ini juga menyebar ke seluruh dunia.

Ahli botani berusaha mengembangkan tipe pisang baru yang tahan terhadap jamur ini – namun, pisang baru tersebut tidak punya rasa dan tekstur yang “tepat”, serta rewel tentang tempat tumbuhnya.

PISANG TANPA JENIS KELAMIN

Pisang orisinal denga banyak biji dan dagingnya sangat sedikit tumbuh subur, dan benih-benihnya akan tumbuh ke dalam tanaman pisang yang lain, jika anda tanam di tanah. pisang itu diploid – setiap sel punya dua salinan untuk setiap kromosom (seperti yang terjadi pada manusia). mutan steril dari 10.000 tahun yang lalu itu merupakan triploid – memiliki tiga salina untuk setiap kromosom.

Pisang kuning yang biasa Anda makan saat ini tidak berjenis kelamin, yang mengombinasikan DNA dan menghasilkan keragaman genetis. Hal ini memberikan manfaat dan mudarat. Satu manfaatnya, semua pisang dari generasi berikutnya sama dengan generasi sebelumnya, sehingga semuanya akan tumbuh dengan baik – selama lingkungannya tidak berubah. Mudaratnya, jika lingkungannya berubah, dan itu tidak disukai pisang, semua pisang akan mati. Ini tepar seperti apa yang terjadi pada pisang Gros Michel.

Tugas yang sulit, panjang dan membosankan untuk “mengevolusi” pisang baru, karena pisang itu subur (fertil), Ahli botani harus menemukan mutan pisang langkan yang tidak steril.  Misalnya, dalam satu penelitian di Honduras, 30.000 tanaman harus diteliti secara cermat untuk menemukan hanya 15 benih fertil.

Sumber: Buku "Cloepatra Si Cantik Atau Si Buruk Rupa?" Karya Dr. Karl Kruszelnicki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s