OVERDOSIS VITAMIN

Vitamin, secara umum kta pahami sebagai sari makanan yang baik dan dibutuhkan oleh tubuh. Logika manusia selanjutnya akan mengatakan, bila sedikit saja sudah baik berarti banyak bisa lebih baik lagi. Semakin banyak vitamin yang kita konsumsi, maka semakin baik bagi tubuh kita. Benarkah begitu?

Iklan-iklan produk vitamin atau makanan penunjang kesehatan banyak bermunculan di televisi, media cetak dan baliho-baliho besar di jalan-jalan yang kita lewati. Ada yang mengklaim bisa menambah vitalitas tubuh dan memperingatkan kita bahaya kekurangan vitamin. Bahkan ada juga yang mengklaim obat “komplementer” mereka bisa mencegah kanker, penuaan, kehilangan pendengaran, kepikunan, penglihatan buruk dan lain sebagainya. Namun, konsep seperti di atas ternyata berbahaya.

Vitamin memang diperlukan tubuh, namun dalam jumlah sedikit. kekurangan vitamin menajadi penyakit, begitu juga kelebihan vitamin. Kelebihan vitamin juga bisa menyebabkan sakit, memicu kanker bahkan membunuh kita.

VITAMIN

Vitamin merupakan keluarga bahan kimia organik yang penting dan baik untuk kesehatan. Vitamin tidak seperti zat makanan makro (lemak, karbohidrat, protein) yang diuraikan menjadi “energi” tetapi biasanya membantu reaksi kimiawi dalam metabolisme tubuh. Perbedaan lain yang perlu saya cetak tebal adalah:

tubuh membutuhkan vitamin dalam jumlah yang sangat sedikit, antara 0,00002% sampai 0,005% dari makanan lengkap kita.

Defisiensi vitamin (kekurangan vitamin) tentu saja berakibat buruk. Misalnya kekurangan vitamin A menyebabkan rabun senja, pengerasan kulit, batu ginjal dan penyakit paru-paru. Kekurangan vitamin B1 (tiamin) juga buruk, menyebabkan beri-beri (gagal jantung yang dikombinasikan dengan membesarnya pembuluh darah halus), ensefalopati Wernicke (kemunduran mental secara progresif, kelumpuhan pada gerak mata dan disorientasi) dan penyakit sistem saraf lainnya. Defisiensi niasin (jenis vitamin B jenis lainnya) bisa menyebabkan pellagra (gejalanya dermatosis, diare, demensia). Kekurangan vitamin C menyebabkan gusi berdarah dan gigi tanggal. Kekurangan vitamin D bisa menyebabkan rakhitis (kaki yang tidak normal bentuknya).

Kebutuhan jumlah vitamin juga berbeda tiap orang dan berbeda pula dengan kondisi berbeda. Misalnya suplemen susu untuk ibu hamil (yang mengandung asam folat) mungkin tidak dianjurkan untuk orang yang tidak hamil. Asupan vitamin C yang dibutuhkan setiap hari juga hanya sekitar 60 – 90 mg, sementara ada minuman yang mengandung 1000 mg vitamin C.

TERAPI MEGADOSIS

Linus Pauling (peraih dua hadiah nobel) adalah orang yang pertama mempopulerkan terapi “megadosis”. Ia mengklaim konsumsi vitamin C yang banyak bisa mencagah atau memperlambat penyakit hati, kanker dan penuaan. Menurutnya, orang biasa perlu mengkonsumsi hingga 10.000 mg vitamin C setiap harinya (bandingkan dengan kebutuhan yang dibutuhkan tubuh sebenarnya). Namun beberapa penelitian tentang hal tersebut, membuktikan teori Pauling itu tak berlaku. Pauling juga menyatakan asupan vitamin C yang sesuai dapat membuat orang terhindar dari sakit flu.

Kalau yang terakhir ada sedikit benarnya, Banyak mengkonsumsi vitamin C (sekitar 8.000 mg) bisa mengurangi sekitar 20% waktu demam yang dialami.

Untungnya, overdosis vitamin C tidak berbahaya. Beberapa kasus yang ada, paling hanya menyebabkan diare. Namun, jangan main main dengan vitamin lainnya. Overdosis vitamin B jenis niasin bisa merusak hati. Overdosis vitamin B tiamin dapat menyebabkan gagal napas dan terkadang hingga kematian.

MEGADOSIS VITAMIN A

Dr. demitrius Albanes (Divisi Epidemiologi dan Genetika Kanker di National Institute of Health, Amerika Serikat) meneliti dan menemukan masalah kesehatan yang berhubungan dengan overdosis vitamin A. Vitamin A diperoleh tubuh dari zat betakaroten (zat yang memberi warna oranye pada wortel dan labu) yang diubah menjadi vitamin A oleh hati. Penelitiannya menunjukkan konsumsi makanan (bukan pil atao obat multivitamin) yang banyak mengandung betakaroten bisa mencegah kanker paru-paru. Namun, jangan berpikir mengkonsumsi ekstrak betakaroten murni dalam jumlah banyak akan baik hasilnya.

Penelitian Dr. Albanes melibatkan 15.000 sukarelawan perokok yang akan mengkonsumsi pil mengandung betakaroten setara dengan 6 wortel setiap hari. Analisis statistik awal, menyatakan banyak dari peserta seharusnya terkena kanker paru-paru. Namun, penelitian yang direncanakan selama 8 tahun itu harus dihentikan lebih awal. Masalahnya, justru hasil analisis menyatakan ada peningkatan 20% yang terkena kanker paru-paru. Bukan menguranginya, tapi malah menambah resiko terkena kanker paru-paru. Jadi, pertimbangkan sebelum anda mengkonsumsi pil vitamin dosis tinggi.

Ada juga penelitian oleh Profesor Melhus (Swedia) yang mengaitkan kosumsi vitamin A berlebih dengan osteoporosis.

KEBENARANNYA

Cara aman agar tidak kekurangan vitamin sekaligus terhindar dari resiko overdosis vitamin adalah mendapatkan vitamin dari makanan. Dari makanan, berarti dari sayuran dan lauk pauk, bukan dari pil atau obat multivitamin.

Tidak ada yang mengalahkan makanan seimbang dan sedikit olahraga untuk membuat kita hidup sehat.

SEKILAS VITAMIN A

1910 — Betakaroten dimurnikan secara kimiawi dari wortel
1913 — Ditemukan vitamin A
1933 — Ahli kimia menemukan struktur kimia vitamin A
1947 — Vitamin A pertama kali dibuat secara sintetis di laboratorium.

VITAMINE ATAU VITAMIN

Pada awalnya, yang dipakai adalah ejaan vitamine (dengan “e” dibelakang) mengacu pada kata latin “vita” yang berarti hidup dan kata Inggris “amine” yang mengacu pada nama zat kimia yang mengandung nitrogen. Namun selanjutnya  ditemukan juga yang tidak mengandung nitrogen, maka huruf “e” di belakang dihilangkan dan selanjutnya yang dipakai adalah ejaan “vitamin”. Selanjutnya, juga ditemukan struktur kimia berbagai vitamin. Sehingga vitamin C biasa disebut juga “asam askorbat”.

VITAMIN UNTUK MANULA

Ada juga anggapan bahwa orang tua memerlukan asupan dari obat multivitamin. Alasannya karena tubuhnya yang aus tak mampu lagi mengambil zat vitamin dari makanan biasa. Sekalipun multivitamin yang terkontrol dan berdosis rendah tidak membahayakan kesehatan, kita perlu melihat penelitian El-Kadiki dan Sutton. Penelitian mereka menyatakan pemberian vitamin pada orang tua tidak benar-benar menunjukkan manfaat apapun yang muncul dari semua data.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s